SAMAPTA DI PUSDIKLAT BAHASA

•July 23, 2008 • Leave a Comment

Waduuuhhhh….. ujug-ujug perut terasa mulas dan mendadak badan terasa tidak enak begitu mendengar kata ”Samapta”. Sepertinya tanda-tanda stress nih he..heee. Padahal samapta yang berarti tes kesegaran jasmani tidak akan mengigit ataupun menyakiti kita. Istilah ”Samapta” di lingkungan TNI adalah suatu bentuk tes jasmani yang meliputi lari 12 menit (biasanya mengelilingi lapangan seluas + 400 m), push-up, sit-up, pull-up dan shuttle run atau lari membentuk angka delapan. Tapi entah mengapa, orang-orang seperti nya alergi terhadap tes samapta. Padahal, di lingkungan TNI AD, tes seperti yang disebut di atas disebut ”Tes Kesegaran Jasmani”, sedangkan ”Tes Samapta” sendiri berarti rangkaian tes di atas ditambah renang 25 meter gaya dada dan postur(membuka seluruh pakaian, tinggal celana dalam untuk pria agar terlihat jelas posturnya).Tes samapta dan kesegaran jasmani ini bertujuan mengukur tingkat kesegaran jasmani tiap-tiap anggota secara berkala. Banyak orang menanggapi secara beragam mengenai samapta ini. Ada yang langsung mempersiapkan diri dengan berlatih intensif sebelum hari pelaksanaan. Ada yang mempersiapkan diri dengan mengkonsumsi supplemen (baca:doping) supaya mantap pada waktu tes, ada yang stress sehingga bolak-balik toilet atau ada yang santai menyerahkan hasilnya terserah pada hari pelaksanaan.

Pusdiklat Bahasa melaksanakan tes samapta pada tanggal 10, 11 dan 15 Juli 2008. Tes samapta A (lari keliling lapangan) dilaksanakan di lapangan Balibang Dephan RI dan dilanjutkan dengan tes samapta B bagi TNI yang meliputi pull-up,push-up, sit-up dan shuttle run di lapangan Pusdiklat Bahasa. Ini merupakan tes samapta pertama kali bagi para rekan PNS. Bagi para PNS, diwajibkan lari sebanyak delapan keliling lapangan dengan catatan siapa yang lebih dulu menyelesaikan delapan keliling dalam waktu singkat maka dialah yang bagus atau baik nilainya. Sedangkan bagi para TNI, peraturannya tetap sama yaitu berlari sebanyak-banyak mengelilingi lapangan selama 12 menit.

Hal-hal lucu dan menggelikan terjadi baik sebelum, sedang maupun setelah tes samapta. Wajah-wajah tegang, tatapan mata kosong maupun kegiatan bolak-balik ke toilet sebelum tes. Pada saat tes dilaksanakan, ada yang lupa berapa kali keliling sudah berlari sehingga harus bertanya kepada pencatat. Ada lagi yang berlari dengan cepat pada putaran pertama dan kedua dan lemas pada putaran berikutnya. Atau ada yang langsung ”PDKT” (pendekatan) ke pihak penguji sebelum tes dimulai dengan sejuta alasan agar penguji paham kondisinya. Hee…hee beragam jurus ampuh dikeluarkan demi menyiasati tes yang ”DAHSYAT” ini. Tetapi masih ada sisi positif lho, yaahh… intinya para pelaku samapta ini tetap memiliki niat yang baik untuk ikut menyukseskan pelaksanaan tes ini walau dengan caranya sendiri.

SAMAPTA, Tes Kesegaran Jasmani atau apapun itu namanya memiliki efek antik dan unik terhadap orang yang mendengarnya… apalagi yang akan melakukannya. Itulah selintas berita tentang tes samapta di lingkungan Pusdiklat Bahasa.

SUMPAH PRAJURIT IN ENGLISH

•July 9, 2008 • 1 Comment

Soldiers Oath

1. Swear to God Almighty

2. Faithful to the government and abiding to the law and state ideology

3. Abiding to the military code

4. Carrying out all duties in a full responsible manner to the military and the Republic of Indonesian

5. Firmly holding the military discipline in the sense abiding, faithful, respect and obedient to superior without arguing to the state or decision which have been made.

6. Strongly holding the military secret

SUTET …oooohh..SUTET

•July 9, 2008 • 4 Comments

Berbahayakah SUTET…. atau Saluran Udara Tegangan Tinggi di dekat pemukiman?? Ada artikel yang mengatakan bahwasanya sutet tidak berbahaya alias aman berada di di pemukiman. Ada satu blog yang berjudul “RUMAHKU SAYANG ….VS …… SUTET”( athayaridha.multiply.com). yang bercerita tentang posisi rumahnya yang dekat menara sutet, sekitar 75 m. Memang banyak yang rumahnya berdekatan dengan menara sutet dan mereka aman-aman saja, tidak terjadi apa-apa, atau…BELUM TERJADI APA-APA..??

Saya juga mempunyai pengalaman serupa tentang SUTET yang selalu membuat saya teringat keluarga dan was-was serta tidak tenang apabila saya kerja dan meninggalkan rumah.Begini ceritanya :

Saya membeli rumah dari hasil tabungan. Sebuah rumah yang lumayan nyaman (bukan MEWAH..he..he). Seperti halnya dalam membeli sesuatu yang BUKANLAH MURAH, saya meneliti, mengamati dan bertanya-tanya tentang keadaan sekitar, dalam radius 100 meter dari rumah yang akan dibeli. Tetangga kanan-kiri mengatakan bahwa tanah, lingkungan, maupun warga sekitar baik-baik (itupun sesuai pengamatan saya). Sampailah saya pada satu BEKAS LOKASI MENARA LISTRIK (terlihat dari bekas tempat kaki-kaki menara). Tetangga mengatakan bahwa tempat itu dulunya menara lisrik yang PERNAH MELEDAK dan sudah tidak digunakan lagi oleh PLN. Sayapun akhirnya membeli rumah tersebut. Terbukti tempat bekas menara listrik tersebut TIDAK PERNAH DIBANGUN, DIGUNAKAN LAGI OLEH PLN alias DITELANTARKAN selama lebih dari 2 tahun. Ternyata belakangan, tiba-tiba, katanya PLN akan membangun kembali menara baru dengan tegangan yang lebih besar dan menara yang lebih tinggi, dengan alasan karena memang itu lah jalur listrik yang menerangi jalan tol Jatiasih…. Waduh. Dimulai dengan pengerjaan beton kaki-kaki menara. Beberapa warga (yang peduli) mulai bertanya-tanya. Saya dan beberapa tetangga mengkonfirmasikan pembangunan ini denga pihak kecamatan….. pihak kecamatan segera memerintahkan untuk menghentikan pembangunan tersebut. Belum lagi tenang hati ini, ada satu LBH yang tiba-tiba muncul mengadakan pendekatan sekalian penjelasan kepada masyarakat sekitar…..tapii… ANEH …pendekatan ini dibarengi pembagian gula pasir dan beras (katanya orang LBHnya ada yang punya sawah lagi panen). Hi…. hi… saya jadi geli, perasaan tempat saya ini hanya beberapa kilometer saja dari Jakarta Timur..tapi kok.. ada orang tertentu yang memandang kita seperti ORANG-ORANG TIDAK KENAL SEKOLAHAN alias bodoh. Proses penggembosan dan penggalangan massa yang pro pun terjadi selama beberapa waktu, sampai pada proses pengukuran oleh petugas PLN..??? yang dikawal oleh LBH dan orang-orang berambut gondrong. Kembali saya dan beberapa warga mendatangi Lurah, Kecamatan, melapor ke Koramil, Polsek dan PLN gandul yang menangani pembangunan ini.
Beberapa kabar selentingan menyebutkan bahwa ada pihak-pihak tertentu (kelurahan dan warga setempat) yang telah menerima uang DP atas ganti rugi lahan yang kena sutet. Hingga ada beberapa warga asli setempat yang berani melontarkan kata-kata “PENDATANG” terhadap orang-orang yang baru tinggal di lingkungan tersebut. Hebat!.. sutet ternyata bisa menghancurkan “Bhinneka Tunggal Ika”. Saya dan beberapa orang baru dibilang pendatang, padahal masih di wilayah pulau jawa dan dekat jakarta lagi.

Saya memang belum tahu efek samping dari sutet ini secara langsung. Hanya menurut saya, jika menara yang dibangun setinggi 75 meter, berarti paling tidak daerah dalam radius 75 meter (sama dengan tinggi menara) harus “clear” (baca: aman) bebas dari rumah dan lainnya dengan perhitungan jika menara ini roboh (tanpa tahu kemana arahnya) maka menara ini tidak akan membahayakan jiwa maupun harta benda warga. Apakah kita (saya dan anda yang membaca blog ini) akan menunggu menara ini roboh dulu dan memakan korban (seperti pernah terjadi menara pemancar salah satu statiun TV roboh dan menimpa rumah hingga memakan korban meninggal) baru mengatakan bahwa SUTET BERBAHAYA..????

Lucunya lagi ternyata menurut warga, PLN hanya membeli tanah HANYA SEBATAS UKURAN MENARA… bukan daerah sekitar.. Lho kok..???

Terus setelah menara pertama meledak, mengapa PLN menelantarkan lahan tersebut, mengapa tidak membangun kembali atau memberi tanda di sekitar lahan sehingga saya tidak akan membeli rumah atau berpikir dua kali jika ingin memiliki rumah di sekitar lokasi itu??? Jelek-jelek begini saya kan masih bisa berpikir sehat…he…he..

Syukurlah, setelah saya dan beberapa warga mengutarakan keberatan ke berbagai pihak, pak Lurah bereaksi dengan mengeluarkan surat himbauan penghentian pembangunan. Bu Kapolsek Jati Asih bertindak tegas terhadap pengukuran yang tidak berijin di lingkungan warga. Beliau langsung memerintahkan mobil patroli untuk mengusirnya. SALUT DAN TERIMA KASIH UNTUK LURAH DAN KAPOLSEK JATI ASIH.

Tidak banyak yang saya harap dari sutet. Saya sebagai warganegara tidak ada niat sedikitpun untuk menghambat pembangunan. Saya hanya berharap agar saya dan keluarga tidak menjadi korban dari pembangunan. Rumah tersebut murni saya beli dari hasil tetesan keringat bukan dari hasil yang bukan-bukan.

Itulah cerita sutet. Jika ada pembaca yang memahami tentang sutet atau yang akan berbagi cerita tentang hal yang sama, saya tunggu commentnya.

Terima kasih.

PARKIR DI PONDOK GEDE MALL

•July 9, 2008 • Leave a Comment

Bagi anda yang memarkir kendaraan bermotor, baik mobil dan motor, di dalam lahan parkir pusat perbelanjaan dan menggunakan karcis parkir, harap berhati-hati dan cermat meneliti dan melihat jam mulai dan selesai parkir. Jam mulai parkir dan selesai parkir yang tertera di karcis parkir akan menentukan berapa rupiah yang harus anda bayar. Saat ini banyak “PETUGAS PARKIR NAKAL dan TIDAK BERTANGGUNGJAWAB”. Pengalaman yang saya alami di Pondok Gede Mall adalah, petugas parkir hampir selalu membulatkan angka rupiah tanpa mengecek ke komputer dan tanpa “struk” (tanda terima). Biaya parkir motor adalah Rp.1000 untuk 1 jam pertama, dan Rp.500 untuk 1 jam berikutnya. Tetapi yang terjadi adalah setiap kali membayar, saya harus membayar lebih Rp.500 atau Rp.1000. Ini sering terjadi, utamanya di pintu keluar parkir yang mengarah ke pondok gede, pada saat antrian banyak atau uang diberikan dalam pecahan agak besar (bukan uang pas). Dan anehnya pada saat saya menanyakan ’struk” atau memperhatikan layar komputer untuk memastikan rupiah yang saya bayar, petugas yang bersangkutan terkesan tidak membantu dengan “pura-pura sibuk” atau “pura-pura tidak mendengar”, Atau mereka tiba-tiba mengembalikan uang kelebihannya. Tentu saja hal ini berarti mereka memang sengaja dan memang tahu bahwa uang saya bayar “lebih”. Ini juga dikuatkan dengan pemandangan banyaknya petugas parkir dan satpam “yang nongkrong” di pintu ini yang berbeda dengan pintu keluar lainnya. Asumsi saya adalah banyak petugas di titik ini karena adanya “uang kecil lebih” untuk rokok mereka. Coba bayangkan apa yang terjadi kalau saya atau anda yang membayar KURANG Rp.500 atau Rp.1000…?? A…ha !!jelaskan! pasti para petugas tidak akan membiarkan hal itu terjadi, entah dengan cara apa…, mungkin TERIAK atau MENGEJAR kita kan… Intinya seharusnya hal ini TIDAK TERJADI. Bayarlah biaya parkir sesuai yang tertera di karcis dan muncul di layar komputer.

Supaya hal-hal yang merugikan kita sebagai pengguna jasa perparkiran TIDAK TERJADI, lakukan hal-hal berikut (seperti yang saya lakukan)

1. Perhatikan jam parkir anda, sesuaikan dengan biaya parkir di tempat anda parkir.

2. Perhatikan layar komputer, berapa yang harus anda bayar, jika mungkin minta tanda terima (print out)

3.Jika anda merasa biaya yang anda bayar lebih, segera minta kembaliannya atau lihat tampilan komputernya

4. Kalau petugas tidak kooperatif, catat nama petugasnya, laporkan ke pimpinannya.

5. Terakhir, jikalau hal tersebut tidak berhasil, yaa… masuk ke dunia maya ini, supaya orang lain bisa waspada dan terhindar dari hal yang sama.

Bagaimana, negara kita, Indonesia yang kita cintai ini bisa maju berkembang seperti negara lain jika masih ada orang-orang tertentu yang memanfaatkan situasi demi “Rp.500 atau Rp.1000 ?” Padahal orang-orang tersebut sudah mendapat bayaran atas kerjanya ya…kan? Coba bayangkan… kalau orang-orang tersebut tidak kerja…nganggur kan??? Harusnya mereka bersyukur sudah kerja, jadi janganlah “Macam-macam”

Jadi tetaplah waspada, “KEJAHATAN BUKAN HANYA TERJADI KARENA ADA NIAT, TETAPI KARENA ADA KESEMPATAN” Waspadalah.

B

A Letter to B-4 Class (KIBI B-4)

•July 7, 2008 • Leave a Comment

Dear all former B-4 Class students,

It’s been nice to have and know you all within short periods, and it becomes an unforgettable moment.

Your class was cheerful, especially because of Nala’s fresh jokes that always surprised all of you, or Dody’s innocent face.

As I told you that we met because of time, then we said good bye because of time too, therefore It will be be better and wiser if everyone of you concerns about time. Time will show you and watch your progress in your English. Those, who successfully prove themselves that they can improve their English, will be a friend of the time, on the other hand, those who fail to use their time, they will suffer in chances. They just a bunch of loser.

English is not a magic for sure. It needs hardworking. It’s a process. Once you know yourself and be a part of that process then you win. Make sure that you can measure your own English.

It is an honour for me to see you back here to grab other English chances provided. Come here to take any overseas tests. Show me who you are. Make me proud in the name of B-4 class.

Last thing, I’d like to cross my finger for you luck and happiness. May God bless you all.

Cheers,

PANCASILA IN ENGLISH

•May 23, 2008 • 1 Comment

PANCASILA

1. Believe in the one Supreme God

2. Just and civilized humanity.

3. The unity of Indonesia.

4. Democracy led by the wisdom of deliberations among representatives.

5. Social justice for the whole of the people of Indonesian

SAPTA MARGA IN ENGLISH

•May 23, 2008 • 1 Comment

SEVENFOLD WAY

1. We citizens of military Republic of Indonesian based on Pancasila

2. We Indonesian patriots, bearers and defenders on the state ideology, who are responsible and know of no surrender.

3. We Indonesian knights, who are devoted to the one God and who defend honesty, truth and justice.

4. We soldiers of the Indonesian armed forces, guardians of the Indonesian state and nation.

5. We soldiers of the Indonesian armed forces, uphold discipline are obedient and observant to our leadership and uphold the soldier’s attitude and oath.

6. We soldiers of the Indonesian armed forces, set ourselves to perform our task will courage and are always ready to devote ourselves to state and nation.

7. We soldier of the Indonesian armed forces, are loyal and keep our words and the soldiers oath.

sekilas tentang interpreter

•May 12, 2008 • 6 Comments

Ingat film…”The Interpreter”??

Mau jadi Interpreter….??

Ingin bisa menterjemahkan bahasa asing ke bahasa Indonesia??

Boleh-boleh saja.

Apa sih interpreter itu…? Lalu apa bedanya dengan translator ……….?? Bukankah kedua-duanya sama-sama menterjemahkan satu bahasa ke bahasa lain.

Bingungkan?

Nah supaya jelas apa itu interpreter dan apa yang dilakukan seorang interpreter kita harus paham dulu perbedaan antara interpreter dan translator.

Interpreter atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Juru Bahasa berbeda dengan Translator atau penterjemah dalam segi media yang dipakai untuk menerjemahkan. Interpreter akan menterjemahkan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran secara langsung atau orally sementara translator akan menerjemahkan bahasa sumber ke bahasa sasaran secara tertulis.

Jadi sekarang ayo kita pusatkan perhatian kita terhadap interpreter.

Jikalau ada yang ingin menjadi interpreter maka orang tersebut haruslah memiliki kemampuan menterjemahkan secara langsung tanpa alat bantu seperti kamus atau alfalink, alias ”on the spot”.

Kemudian ada 2 jenis kerja yang akan dilakukan seorang interpreter dalam menterjemahkan. Yang pertama disebut ”simultaneous interpreting” di mana seorang interpreter duduk dalam ”booth” dengan memakai headphones untuk mendengarkan pembicaraan dalam bahasa sumber yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran dan akan langsung disampaikan melalui mikrophone.

Yang kedua dikenal dengan ”consecutive interpreter” dimana pembicara akan berhenti atau jeda setiap 1-5 menit pada akhir paragraf atau pikiran. Nah pada saat si pembicara ini ”istirahat” , interpreter beraksi menyampaikan apa-apa yang telah disampaikan si pembicara ke dalam bahasa sasaran tanpa menambah ataupun mengurangi maksud si pembicara. Kemampuan mencatat atau ”note-taking” sangat berperan penting dalam hal ini sehingga interpreter tidak kehilangan informasi,data-data yang harus disampaikannya. Jangan salah ”note-taking” bukanlah stenografi. Banyak interpreter yang menciptakan simbol-simbol atau tanda-tanda sendiri sebagai taktik dan strategi dalam mencatat data atau info supaya jangan lupa.

Terus kira-kira hal-hal apa saja ya yang harus dikuasai atau dimiliki seorang interpreter?

Hal-hal berikut inilah yang sebaiknya dimiliki oleh seorang interpreter yang baik.

1. Pengetahuan tentang hal-hal umum yang berkaitan dengan pidato atau hal yang akan diterjemahkan.

2. Pengetahuan tentang budaya kedua bahasa.

3. Kosakata kedua bahasa.

4. Kemampuan mengekspresikan pokok pikiran dengan jelas dan tepat dalam dua bahasa.

5. Kemampuan mencatat dalam ’consecutive interpreting’.

Inilah sekilas tentang apa dan bagaimana interpreter itu, semoga bermanfaat.

Nah…. bagaimana…. berminat???

Ayo kita coba, biar kita tahu kemampuan kita.

“No Pain, No Gain”

Sukses

Hello world!

•May 8, 2008 • 6 Comments

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!